Search  
Berita
Kamis, 11 Desember 2008 15:48:20
Wajah Baru Batik 2009
Kategori: Umum (559 kali dibaca)

SALAH satu cara membesarkan nama bangsa adalah dengan menghargai dan melestarikan warisan leluhur. Batik, misalnya.

Batik merupakan salah satu warisan kebudayaan yang menjadi kebanggaan Indonesia. Keberadaan batik telah melebihi sekadar tekstil semata. Batik seakan mampu menyampaikan rasa cerita kehidupan, serta filosofi dan pengharapan akan hidup. Batik juga merupakan bukti asimilasi kultur yang terjadi pada eranya.

Melalui "Festival Batik Nusantara", 11 perancang andalan di Tanah Air kembali mengolah batik menjadi sebuah mahakarya luar biasa dan sejajar dengan produk-produk buatan luar negeri. Mereka adalah Carmanita, Era Soekamto, Ghea Panggabean, Tuty Cholid, dan Stephanus Hamy. Selain itu ada Musa Widyatmodjo, Lenny Agustin, Sofie, Barli Asmara, dan Ade Sagi.

Mereka pun bersepakat bahwa batik terus lestari di 2009 nanti. Hanya, penampilan batiknya sangatlah berbeda dan menitikberatkan pada perpaduan warna, motif dan pola desain yang unik. Tidak kalah penting, tren busana batik 2009 berkesan kontemporer dan bercita rasa internasional.

Buktinya, 63 busana batik yang dipamerkan di The Hall senayan City, Jakarta, Rabu (10/12/2008) malam, kaya motif dan warna. Bahkan, desain busananya pun terlihat sangat up to date. Seperti batik yang diolah menjadi gaun malam lengkap dengan hiasan selendang, mini dress, long dress hingga gaun yang menyerak lantai pun masih mendominasi acara yang diresmikan oleh istri dari Gubernur DKI Jakarta, Tatiek Fauzi Bowo.

Selain itu, busana dengan teknik padupadan pun menjadi perhatian dari perancang. Model-model tersebut seperti bolero, bustier, blazer, beragam dress, hingga legging menjadi sebuah pelengkap yang terlihat manis. Nampaknya celana jodhpur (celana yang mengembang di bagian paha dan berkerut pada bagian bawah) pun menjadi tren 2009. Terbukti, hampir keseluruhan perancang ikut memopulerkan model celana ini.

Beberapa motif lainnya yang telah muncul sebelumnya di tahun 2008, kini pun ikut ambil bagian seperti koleksi Stephanus Hamy yang mengangkat motif polkadot dan tartan. Sama halnya dengan Ade Sagi yang mengedepankan model one shoulder, balon, serta lipit pada koleksinya kali ini. Sementara itu, Lenny Agustin tetap mengusung semangat keceriaan anak muda dalam koleksi second line, Lennor.

Satu lagi desainer muda yang mencoba mengolah batik dengan sentuhan kebudayaan China adalah Era Soekamto. Didukung batik Abit Apik, Era memberi nama koleksinya "Indigo".

Menurut Era, pengaruh China tersebut terselip pada motif-motif batik yang dia pakai, namun tetap memanfaatkan pewarnaan khas lokal. Menggunakan batik rembangan dengan warna biru putih dan motif burung hong, persis menyerupai keramik dan guci China yang berbentuk tubuh perempuan.

"Batik rembangan merupakan asimilasi karya batik pesisiran yang ciri khasnya adalah biru, putih, dan merah. Saya usung gaya modern yang memperlihatkan siluet perempuan. Alhasil, koleksi ini berkesan feminin dan seksi," jelas Era.

Era menambahkan, acara ini bertujuan positif untuk mempertahankan warisan budaya Indonesia. Pantaslah dia pun tertarik untuk unjuk koleksi.

"Saya berusaha mengolah batik menjadi sesuatu yang baru, agar si pemakai terlihat muda dan energik. Terpenting lagi tampilan busananya look international," pungkasnya.

(Eko)
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar