Search  
Editorial
Rabu, 05 November 2008 18:49:48
Lukman Edy "Bernostalgia masa lalu" Di Kepri
Kategori: Umum (691 kali dibaca)
Seandainya Nyat Kadir Bersabar

Bernostalgia. Itulah yang dirasakan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT) HM Lukman Edy, ketika kembali menginjakkan kaki ke Kepri, Jumat hingga Sabtu lalu. Di sela kesibukan menghadiri acara PKB dan kegiatan dinasnya, LE --begitu dia biasa disapa-- bercerita banyak hal tentang Kepri dan suksesi kepemimpinan ke depan. Berikut rangkumannya.


CANDRA IBRAHIM, Batam

Tak banyak yang berubah pada diri menteri termuda di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), anak jati Riau yang juga Sekjen DPP PKB itu. Ketika menemui beberapa wartawan yang menunggu di kafe Hotel PIH Batam Center, tetap bersahaja. Sebenarnya, kedatangan wartawan ke situ adalah untuk mewawancarai seorang caleg dari PKB untuk DPR RI. Sebelumnya pun tak nampak LE di antara para wartawan.

Namun, setelah di-sms oleh stafnya, LE turun dari salah satu kamar di hotel tersebut dan menemui kami. Begitu sampai di kafe, laki-laki bertubuh subur itu menyapa rombongan wartawan dan merangkaul pundak salah satu dari mereka. Jauh dari kesan protokoler pejabat kelas menteri. Kemudian dia mengajak saya ke kursi di lobi hotel. Di belakang saya ikut Pemimpin Redaksi Posmetro Ramon Damora.


”Awak tak usahlah ikut wawancara, kite duduk di sane saje,” katanya sambil mengajak saya duduk di kursi dekat lobi.
Seperti biasa, bahasa Melayu yang biasa dia gunakan masih lancar tanpa canggung meluncur dari bibirnya. Meskipun di sana banyak stafnya yang tentu saja dari berbagai latar belakang. Saat itu dia mengenakan kemeja ”kebesaran” PKB. Di dada sebelah kiri tertulis namanya, Lukman Edy. Penampilannya sedikit kasual, tanpa kaca mata.
Dia banyak bercerita perkembangan terbaru di DPP PKB. Dia dan ketua umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, saat ini terus melakukan konsolidasi yang sempat terganggu akibat kekisruhan di tubuh partai kaum Nahdliyin itu. Terakhir, MA memenangkan mereka atas Gus Dur.


”Kini saatnya kita konsolidasi agar lebih solid. Masalahnya, dulu, terkadang banyak pihak yang tidak sabar, seperti di Kepri, misalnya,” ulasnya.


Seperti diketahui, mantan Ketua DPW PKB Kepri Nyat Kadir adalah salah satu ”korban” dari kekisruhan yang terjadi di tubuh partai berlambang sembilan bintang dan bulan itu. Dia kini digantikan oleh mantan sekretarisnya, Endy Maulidi. ”Kalau saja Pak Nyat bisa sabar dan netral saja, tidak buru-buru mengambil keputusan, mungkin ceritanya akan lain,” kata LE.
Sampai detik-detik terakhirpun, LE mengaku masih memberikan kesempatan kepada Nyat Kadir untuk tetap berada di kubu yang dia dan Muhaimin pimpin. Namun, Nyat waktu itu bersikukuh memihak Gus Dur, mantan ketua Dewan Syuro DPP PKB yang kini berseberangan dengan Muhaimin-LE.


Bahkan, menurut LE, ketika rombongan Nyat dan Basith Has (mantan ketua Dewan Syuro PKB Batam yang terakhir mengundurkan diri dari caleg) dalam perjalanan dari bandara ke tempat Muktamar PKB kubu Gus Dur, LE masih berusaha menelepon mereka, namun tetap tak direspons.


Soal ini, sebelumnya, pernah ditanyakan ke Nyat Kadir, dalam sebuah kesempatan ketika bertemu di sebuah restoran Bandara Hang Nadim Batam. Namun, saat itu Nyat membantah bahwa dia telah dihubungi oleh LE. Bahkan ketika dikonfirmasi bahwa dia ditelepon oleh kubu LE, dan Nyat tak menjawab telepon tersebut, dibantah oleh Nyat.


”Tak mungkinlah saya tak mengangkat teleponnya. Saya ini masih ada hubungan saudara dengan Lukman,” kata Nyat waktu dikonfirmasi.


Kini, PKB Kepri sudah beralih ke mantan Sekretaris Nyat Kadir, Endy Maulidi. Demikian pula mantan Ketua Dewan Syuro PKB Batam Basith Hash yang ikut menghadiri MLB Parung bersama Nyat, terakhir menyatakan mengundurkan diri dari caleg. ”Korban” lainnya, mantan ketua DPD PKB Tanjungpinang, Oktavio Bintana, kini pindah ke Partai Merdeka.


Soal ini, Endy Maulidi, ketika makan malam bersama LE di rumah makan ikan sembilang Tanjungriau, mencoba memberi penjelasan. ”Sebenarnya, Vio juga sudah ditawarkan. Namun dia mengaku akan tetap bersama Nyat Kadir. Artinya, dia tetap memilih tidak di pihak kita. Ya sudah, apa boleh buat,” kata Endy yang dibenarkan LE.


Saat bincang-bincang di lobi PIH, tiba-tiba LE ingin makan malam. Dia bertanya menu apa yang tidak biasa di Batam. Lalu, Ramon menawarkan ke sebuah rumah makan di Tanjungriau yang terkenal dengan menu asam pedas ikan sembilang dan goreng lense belanak.


Padahal saat itu hampir pukul 20.00 WIB. Bersyukur, setelah ditelepon, si pemilik rumah makan mau menyediakan menu untuk rombongan menteri termuda di kabinet SBY-JK itu.


Mungkin karena lama tak bersua, LE yang pernah menulis kata pengantar di buku saya Membranding Batam, Menjual Kepri itu, minta naik mobil saya ke Tanjungriau. Besar juga hati ini. Di perjalanan, pembicaraan beralih ke persoalan yang ringan-ringan saja.


Misalnya soal kemenangan pamannya, HM Rusli Zainal, dalam pemilihan Gubernur Riau untuk periode kedua. Juga soal abangnya, Indra M Adnan yang juga terpilih lagi menjadi Bupati Indragiri Hilir, tanah kelahiran LE.


Keterikatan LE dengan Kepri, bukan saja karena saudara-maranya banyak di sini, namun dialah yang menjadi Ketua Pansus DPRD Riau tentang Pemekaran Provinsi Kepri, di akhir 1990-an dulu. Dia pula di antara anggota DPRD Riau yang ngotot berhadapan dengan mantan Gubernur Riau Saleh Djasit dan berjuang memekarkan Kepri menjadi provinsi.


Akhirnya, meskipun Pansus merekomendasi Kepri layak jadi provinsi, namun DPRD Riau yang dipimpin Chaidir menolak rekomendasi tersebut bersama Saleh Djasit.


Lalu, ke mana LE setelah nanti tidak menjadi menteri lagi? Nampaknya semua akan sangat tergantung dari hasil Pilpres 2009 mendatang. Yang jelas, saat ini dia menjadi pembantu SBY di kabinet, tentulah dia mesti patuh pada presiden. Soal nanti apakah terpilih lagi menjadi menteri, LE tak berani memperkirakan. ”Saya tak tahu apakah masih dipakai di kabinet atau tidak. Ini akan sangat tergantung capres mana yang kita dukung nanti,” katanya.


Tapi, bukankah PKB saat ini lagi mesra dengan pemerintah?


”Ya, orang boleh saja cakap begitu. Tapi akan sangat ditentukan kelak di Pemilu dan Pilpres,” katanya.
Bukankah PKB tetap akan diperitungkan, meski siapapun presidennya kelak?


”Nah, itu dia. Banyak yang bilang begitu. Tapi, bagi saya pribadi, tak lagi jadi menteri, paling tidak bisa tetap di pusat, jadi anggota DPR RI, misalnya. Mungkin bisa jadi ketua fraksi,” katanya.


Soal syarat dukungan parlemen atau suara Pemilu untuk capres yang sekarang ramai dibicarakan, nampaknya PKB akan keukeuh di angka 15 persen. Ini berbeda dengan PDI-P dan Golkar yang ngotot di kisaran 20--26 persen.


Nah, kabarnya, sebelum voting di DPR tanggal 28 Oktober mendatang, SBY akan memanggil beberapa menterinya yang juga pengurus partai, termasuk Lukman Edy.


Sampai di rumah makan, LE langsung menyantap hidangan yang memang sudah disiapkan. Satu kepala ikan sembilang sebesar telapak tangan ditambah seekor ikan belanak goreng, dalam sekejap pindah ke perut pria kelahiran Indragiri Hilir, Riau, tersebut. Di antara rombongan yang jumlahnya hampir 30 orang itu, nampak Ketua DPW PKB Kepri yang menggantikan Nyat Kadir, Endy Maulidi.


Usai makan, dalam perjalanan ke Hotel Goodway, LE masih bercerita banyak, termasuk pemikirannya tentang Kepri. Bahkan, secara iseng dia bertanya, siapa yang akan menjadi Gubernur Kepri mendatang? Ketika disebutkan kemungkinan Ismeth akan maju lagi, LE hanya tersenyum. Sebab, salah satu kandidat yang disebut-sebut bakal bersaing dengan Ismeth kelak adalah Nyat Kadir, mantan ketua partainya.


Nyat terakhir bergabung ke PKS, meskipun tidak menjadi caleg di partai tersebut. Kabarnya, merapatnya Nyat ke PKS adalah untuk menjadikannya perahu bertarung di Kepri 1 tahun 2010 mendatang. Soal ini, LE punya pertanyaan menarik. ”Apa mungkin PKS mau mengusung calon yang bukan kadernya?” ***

(Eko)
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar