Search  
Editorial
Senin, 03 Maret 2008 14:59:51
Lukman Edy, Jum'at adalah Waktu Untuk Keluarga
Kategori: Umum (867 kali dibaca)

sebagian kalangan, karier M Lukman Edy mungkin terlalu cepat melejit. Dia resmi diangkat menjadi Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (Meneg PDT) menggantikan Saifullah Yusuf pada Mei 2007 lalu, usianya belum genap 37 tahun. Itu membuat dia menjadi menteri termuda di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Adakah masalah dengan status termuda itu?

Berikut penuturan Lukman Edy saat ditemui SINDO di kediamannya.

Di jajaran KIB, Anda yang termuda.Merasa ada beban? Saya merasa tidak ada problem dengan status saya sebagai menteri termuda.Justru ini tantangan yang harus dibuktikan, tidak hanya kalangan tua dan berpengalaman yang mampu,kaum muda pun bisa dan sanggup menjalankan tugas dan tanggung jawab ini. Kebetulan juga, saya sudah terbiasa menjadi yang termuda sejak memulai karier organisasi di bangku kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Saya sudah masuk senat mahasiswa ketika baru menapaki semester I. Sementara yang lain baru terlibat saat masuk semester IV,V,atau VI. Dalam karier politik, saya menjadi anggota DPRD Riau yang bisa dikatakan termuda. Sebab, pada saat itu umur belum genap 28 tahun.

Selang setahun menjadi Ketua DPW PKB Riau, di PKB saya jadi Ketua DPW termuda se-Indonesia dan selanjutnya menjadi Sekjen PKB.Saya nggak tahu,mungkin ini garis tangan,setiap kali ada momen pemilihan, saya biasanya terpilih sebagai ketua termuda. Sebenarnya, menjadi Sekjen PKB bukan pilihan mudah.Sebab, saya hanya orang kampung yang sama sekali belum mengenal medan politik Jakarta. Saya betul-betul menjadi orang baru di Jakarta, bahkan tidak tahu jalan. Nekat memang. Kalau dilihat dari segi ekonomi dan kemapanan politik, saya tidak perlu ke sini. Tapi sebagai anak muda,saya anggap ini tantangan. Biasa, anak muda kan suka tantangan.

Anda seorang pengusaha, mengapa terjun ke politik?

Pengusaha adalah implementasi dari pendidikan saya, dari teknik sipil kemudian bidang konstruksi dan manajemen.Kalau politik memang darah keluarga, politikus semua. Kemudian, sejak muda sudah aktif di dunia aktivis.Jadi memang darah aktivis sejak muda. Sementara jadi pengusaha karena bawaan orangtua,awalnya politikus.Tetapi, karena pernah mengalami tekanan politik kuat pada masa represi Orde Baru,kemudian untuk survive beralih menjadi pengusaha. Berbekal bakat, usahanya pun jadi berkembang dan akhirnya menjalani dua-duanya.

Tebersit ingin jadi menteri?

Tidak ada,saya pindahke Jakarta pun awalnya tidak ada keinginan. Setelah kuliah selesai, rencananya langsung pulang dan membangun bisnis di kampung halaman.Tidak ada pikiran sampai sejauh itu.Dulu memang pernah bercita-cita menjadi gubernur dan duta besar. Itu cita-cita awal masa SMA dan sekarang justru di luar perkiraan.

Kesibukan menteri luar biasa, bagaimana sikap keluarga? Tidak ada masalah.Mereka bisa memahami kesibukan saya selaku menteri PDT yang hampir setiap hari berkeliling ke daerah-daerah tertinggal.Walaupun sibuk, kita berusaha meluangkan waktu untuk kumpul dan berkomunikasi seminggu sekali.Waktu yang ada memang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Meskipun demikian, keluarga selalu mendukung setiap hal yang dianggap positif. Apalagi, ini demi peningkatan taraf hidup dan pembangunan daerah tertinggal.

Kendati demikian, jika saya tidak jadi menteri pada periode pemerintahan mendatang, keluarga sangat bersyukur sekali. Sebab, bisa sering ketemu dan berkumpul. Bayangkan saja, dalam seminggu,bisa ketemu anak hanya sehari, itu pun pada hari Jumat. Hari Sabtu-Minggu biasanya juga mengunjungi daerah,jadi tidak mungkin ketemu.Jumat pun, paling sebelum berangkat.

 Aktivitas yang dilakukan dengan keluarga?

Setiap kumpul harus ada aktivitas yang berkualitas, nonton bareng di rumah atau di bioskop, jalan-jalan, tidur sama anak-anak. Sekali-kali rekreasi tapi waktunya sangat terbatas. Sebenarnya, saya rindu akan kebersamaan yang sebelumnya terjalin, tapi saat ini hanya bisa ketemu seminggu sekali. Itu adalah risiko dari tanggung jawab yang harus diperjuangkan bagi masyarakat.

Aktivitas lain seperti hobi?

Hobi? hampir semuanya saya tinggalkan karena tidak bisa menyisakan waktu. Sebelum jadi menteri, biasanya main golf, itu hampir setiap minggu.Tapi sejak jadi menteri, tidak ada waktu lagi. Aktivitas yang sempat, paling menyempatkan baca novel-novel dari Indonesia dan terjemahan dari luar negeri.Novel yang sering dilahap seperti karangan Paulo Coelho. Yang penting satu buku satu minggu. Kalau sedang santai atau waktu istirahat, tidak mau menyia-nyiakan buka-buka buku. Justru,saya lebih banyak membaca kala ada di dalam pesawat.

Awal karier politik? Itu berawal dari muktamar PKB di Semarang. Pilihannya, saya disuruh melanjutkan dan memperkuat kemapanan politik dan ekonomi di Riau.Kedua, bertarung menjadi gubernur dan wakil gubernur, dan ketiga jadi Sekjen PKB. Saya lebih memilih dan tertarik menjadi Sekjen PKB.Alasannya sederhana, pada saat di Riau, saya sudah terhitung mapan. Secara politik, saya sudah jadi tokoh,di antaranya ketua partai, anggota DPRD, dan pengusaha.

Kendala saat menjadi menteri pertama kali? Penyesuaian satu sampai dua bulan.Satu bulan sudah bisa orientasi memahami administrasi kementerian, membuka komunikasi dengan menteri lain, memahami bagian pola kerja kabinet. Bulan kedua, sudah bisa menentukan prioritas-prioritas yang bakal dilakukan. Selanjutnya,tidak begitu terkendala sebab tinggal menjalankan program-program kerja yang sebelumnya telah tersusun.

Program yang sudah dilaksanakan? Saat menjadi menteri, saya menghadapi Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal pada kondisi yang sudah berjalan. Banyak nilai positif, dari nilai sebagai Menteri Negara PDT sampai landasan hukumnya yang telah berjalan. Pertama, saya masuk pada saat kondisi anggaran 2007 sedang berjalan. Kedua,landasan hukum operasionalisasi infrastruktur sudah mantap, saya tinggal menyelesaikan agenda program tahunan yang fokusnya pada progres penyerapan anggaran pembangunannya. Jadi saya bikin pos program untuk bisa mempercepat penyerapan dana tersebut. Kita harapkan pada November dan Desember ini sudah berjalan bagus dan sudah bisa di atas 55%. Memang ada kendala tapi hanya teknis. Menjelang awal 2008, kita perlu mendesain PDT seperti apa. Persiapan-persiapan menyelesaikan tugas-tugas dua tahun berikutnya.

Persoalan lain? Soal infrastruktur desa,persoalan keuangan tidak dominan menggeser satu daerah lepas dari ketertinggalannya. Ada faktor lainnya juga yakni kemampuan keuangan daerah, infrastruktur, SDA, dan SDM sebagai elemen yang penting. Tapi saya melihat trennya justru pada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi. Salah satu jawaban pertumbuhan ekonomi itu terletak di investasi. Kita sekarang bentuk tim khusus yang bertugas menggerakkan investasi untuk masuk ke daerah-daerah tertinggal meski dengan segala keterbatasannya.

Selama ini kerja sama daerah dengan pusat seperti apa? Kitaselaluberkoordinasidengan daerah tertinggal. Salah satunya dengan lintas sektoral.Koordinasi lintas sektoral atau departemen itu tergambar pada rencana aksi nasional (RAN). Kebutuhan-kebutuhan koordinasi dengan sektor lain 95% berhasil. Sebab, hampir seluruh RAN PDT, sudah direspons menteri-menteri lainnya.Sekarang, hanya tinggal menunggu respons dari beberapa departemen. Namun,mereka berjanji segera menjawab setelah penetapan APBN 2008 menetapkan lokusnya, sekaligus menentukan daerah tertinggal yang menjadi prioritas. Persoalan justru di pemerintah daerah. Karena itu, pada 2008 harus dicari pola koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Dengan begitu, akan lebih efektif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.Tapi kalau menanamkan investasi mereka memiliki keterbatasan. Justru di tingkat provinsi inilah yang harus ada pendekatan yang lain dari sebelumnya.

Yang paling bertanggung jawab dalam pembangunan daerah? Pada hakikatnya pembangunan daerah merupakan kewenangan dari pemerintah daerah, baik itu provinsi maupun kabupaten/kota. Sedangkan pusat berfungsi sebagai motivator dan fasilitator dalam percepatan pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan daerah tertinggal tidak mungkin berhasil tanpa dukungan dan kerja keras para pemangku kepentingan. Sehingga diharapkan semua lapisan masyarakat memahami pentingnya pembangunan daerah tertinggal.

Butuh investasi berapa besar? Kita membuka diri seluasluasnya untuk membawa investasi ke daerahtertinggal.Makanya agenda pertama yang perlu dilakukan, menjelaskan visi PDT ke temanteman di Kamar Dagang dan Industri. Yang harus kita tanya sekarang, sudah seberapa besar investasi yang mampu digiring Kementerian PDT masuk ke daerah-daerah tertinggal.

Optimis tercapai? Saya tidak pakai perasaan dalam perhitungan,saya orang teknik jadi cukup pakai kalkulasi.Apa yang dilakukan Kementerian PDT, koordinasi dengan kementerian lain, hanya berperan 20% guna menyelesaikan persoalan daerah tertinggal. Kemudian,20% lainnya tergantung ketepatan pemerintah kabupaten mencari prioritas-prioritas pembangunan.20% lainnya pemerintah provinsi, dan 40% lainnya investasi masyarakat dan swasta.

(Eko)
Komentar Terkini (0 komentar)
Belum ada komentar